Pengaruh Musik dalam Gereja
Pengaruh Musik dalam Gereja
Telah banyak studi yang mempelajari pengaruh musik, salah satu diantaranya adalah Prof Dr. Herry Chunagi seorang divisi dari Pediatric Neurology Children's Hospital of Michigan, juga sebagai dosen di Wayne State University kota Detroit Amerika serikat (USA) mengatakan bahwa; neuron (sel kondiktor pada sistem saraf) akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan (saling berhubungan) dan mengintegrasikan (menggabungkan) diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antara neuron itu. Itulah sebabnya dan dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anakDaryono Sutoyo, Guru Besar Biologi di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, melakukan penelitian pada tahun 1981 tentang pengaruh musik terhadap otak manusia, beliau mengungkapkan bawha pendidikan kesenian penting diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) agar peserta didik sejak dini memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan otak kanan. Bila mereka mampu menggunakan fungsi kedua belahan otaknya secara seimbang, maka apabila mereka dewasa akan menjadi manusia yang berpikir logis dan intutif (kemampuan memahami), sekaligus cerdas, kreatif, jujur, dan tajam.
Secara umum musik dapat mempengaruhi jiwa seseorang dan merangsang otak manusia. Seperti yang dikatakan diatas bahwa musik memiliki Roh atau jiwa. Dalam ruang lingkup ibadah, puji-pujian dan penyembahan yang dinyanyikan memiliki perbedaan ketika lagu dinyanyika tanpa musik dan dengan menggunakan musik. Lagu yang dinyanyikan tanpa musik akan terasa hambar (banyak kekosongan), berbeda ketika lagu di iringi dengan “musik”. dari pengalaman lintas denominasi gereja, terlihat perbedaan yang sangat jauh ketika lagu yang sama dinyanyikan dengan menggunakan iringan musik dan tanpa iringan musik.
Lagu/nyanyian yang di iringi dengan menggunakan “alat musik” membawa suasana hati seseorang kedalam isi dan makna lagu tersebut, sehingga dengan mudah seseorang mengekspresikan diri lalu menetaskan air mata ketika menyanyikan sebuah lagu atau mengoyangkan kakinya dlsbgnya. Ekspresi dari sesseorang bermacam macam tergantung pembawaan dan jiwanya masing masing individu.
Pengaruh musik terhadap perkembangan gereja sangat siknifikan terlihat di dalam likup gereja beraliran karismatik. Menurut pengamatan dan pengalaman penulis, Di Toraja secara khusus gereja Toraja, pada akhir tahun 1998 awal tahun 2000 hingga 2005 belum terlalu memberi perhatian terhadap musik didalam ibadah, sedangkan gereja beraliran karismatik seperti pantekosta, mereka sangat “mengutamakan” peran musik dalam ibadah. Oleh sebab itulah banyak diantara anggota jemaat gereja toraja berpindah ke gereja pantekosta. Waktu itu penulis sangat kerkesan, dan penasaran sehingga penulis ingin mengetahui apa penyebab dan mengapa hal itu terjadi.
Banyak diantara anggota jemaat yang berpindah, oleh karena menurut hasil perbincangan penulis dengan beberapa orang yang telah berpindah aliran gereja tersebut mengungkapkan bahwa; mereka merasa senang seakan-akan menyatuh saat beribadah di gereja Pantekosta oleh karena di iringi musik band tutur mereka. Persoalan pindah jemaat bukalah menjadi sebuah permasalahan, melainkan “Apresiasi” masyarakat secara khusus gereja terhadap musik masih sangat “memprihatinkan” ini disebabkan oleh karena pengetahuan akan Musik, secara khusus Musik Gereja masih sangat kurang.
Gereja seharusnya menggunakan bahasa musikal seperti yang telah digunakan gereja pada jaman dahulu, umat di zaman dahulu melibatkan music (instrument) didalamnya dalam mengiringi nyanyian, puji-pujian, dan lagu penyembahan, yang membuat umat lebih bersemangat sehingga mereka menari dan bersorak memuji Tuhan Allah.
terimakasih
Semoga bermanfaat
Lihat teknik mengiringi dengan voice pipeorgan
klik disini
Comments